PENGERTIAN PESTISIDA

Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) 1986 dan peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1973, pestisida adalah campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikan hewan tumbuhan penganggu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia.
`
Pestisida juga didefinisikan sebagai zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan tanaman (PP RI No.6 tahun 1995). USEPA menyatakan pestisida sebagai zat atau campuran zat yang digunakan untuk mencegah, memusnahkan, menolak atau memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman dan mikroorganisme penganggu.
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.
Menurut
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973 yang dimaksud pestisida ialah semua zat dan bahan kimia dan jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
2. Memberantas rerumputan
3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan
4. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak
5. Memberantas atau mencegah hama-hama air
6. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam bangunan rumah tangga alat angkutan, dan alat-alat pertanian
7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan tanaman, tanah dan air.
Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan.
JENIS-JENIS PESTISIDA

Jenis-jenis pestisida yang pada umumnya digunakan adalah herbisida, insektisida dan fungisida.
Berdasarkan jenis bentuk kimianya, pestisida Insektisida dapat digolongkan menjadi :
a. Organofosfat
Pestisida yang termasuk ke dalam golongan organofosfat antara lain : Azinophosmethyl, Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat, Disulfoton, Ethion, Palathion, Malathion, Parathion, Diazinon, Chlorpyrifos.
Organofosfat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Pada awal sintesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia.
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia. Bila tertelan, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan kematian pada manusia. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis acetylcholine menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah acetylcholine meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh. Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer.
b. Karbamat
Pestisida yang termasuk karbamat antaralain: karbaril, karbofuran, BPMC, MPMC, dimetilan, isolan, metomil, oksamil, Tiofanoks (Baehaki). Insektisida karbamat berkembang setelah organofosfat. Insektisida ini biasanya daya toksisitasnya rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif untuk membunuh insekta. Pestisida golongan karbamat ini menyebabkan karbamilasi dari enzim asetil kholinesterase jaringan dan menimbulkan akumulasi asetil kholin pada sambungan kholinergik neuroefektor dan pada sambungan acetal muscle myoneural dan dalam autonomic ganglion, racun ini juga mengganggu sistem saraf pusat.
Mekanisme toksisitas dari karbamat adalah sama dengan organofosfat, dimana enzim achE dihambat dan mengalami karbamilasi.
c. Organoklorin
Organoklorin atau disebut “Chlorinated hydrocarbon” terdiri dari beberapa kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling populer dan pertama kali disinthesis adalah “Dichloro-diphenyl-trichloroethan” atau disebut DDT.
Mekanisme toksisitas dari DDT masih dalam perdebatan, walaupun komponen kimia ini sudah disintesis sejak tahun 1874. Tetapi pada dasarnya pengaruh toksiknya terfokus pada neurotoksin dan pada otak. Saraf sensorik dan serabut saraf motorik serta kortek motorik adalah merupakan target toksisitas tersebut. Dilain pihak bila terjadi efek keracunan perubahan patologiknya tidaklah nyata. Bila seseorang menelan DDT sekitar 10mg/Kg akan dapat menyebabkan keracunan, hal tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam. Perkiraan LD50 untuk manusia adalah 300-500 mg/Kg.
d. Piretroid
Termasuk dalam golongan piretroid, antara lain d-aletrin, phtalthrin, resmethrin, barthrin, cypermethrin, permethrin. Piretroid ini merupakan insektisida botani (Baehaki). Pyrethrum alami sudah jarang digunakan dalam dunia pertanian dikarenakan harga yang mahal dan tidak stabil bila terkena sinar matahari. Pyretroid merupakan pyrethrum sintetis yang mempunyai sifat stabil bila terkena sinar matahari dan relatif murah serta efektif untuk mengendalikan sebagain besar serangga hama pertanian. Semua golongan Piretroid mode of action-nya sama, yaitu meracuni sistem syaraf.
Ada dua tipe pyretroid, pertama mempengaruhi respon fisiologis, mempunyai koefisien negatif terhadap temperatur. Tipe kedua, mempunyai koefisien positif terhadap temperatur, mempunyai peningkatan efek membunuh hama seiring dengan peningkatan temperatur (suhu). Piretroid mempunyai efek mempengaruhi sistem syaraf serangga pada peripheral (sekeliling ) dan central (pusat).
Peritroid awalnya menstimulasi sel syaraf untuk memproduksi “discharge” secara berlebih dan akhirnya menyebabkan paralisis dan kematian.
Pestisida dapat diklasifikasikan berdasarkan organisme targetnya yaitu:
1. Insektisida berfungsi untuk membunuh atua mengendalikan serangga
2. Fungisida berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan
3. Akgasida berfungsi untk membunuh alga.
4. Avsida berfungsi untuk membunuh burung serta pengontrol populasi burung.
5. Akarisida berfungsi untuk membunuh tungau atau kutu.
6. Bakterisida berfungsi untuk membunuh atau melawan bakteri.
7. Larvasida berfungsi untuk membunuh larva.
8. Moluskisida berfungsi untuk membunuh siput.
9. Nematisida berfungsi untuk membunuh cacing.
10. Ovisida berfungsi untuk membunuh telur.
11. Pedukulisida berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
12. Piscisida berfungsi untuk membunuh ikan.
13. Rodentisida berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.
14. Predisida berfungsi untuk membunuh pemangsa atau predator.
15. Termisida berfungsi untuk membunuh rayap.
16. Herbisida berfungsi untuk membunuh gulma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar